• (0356) 8833799
  • smaalhuda01@gmail.com

Anger MANAGEMENT

 post on: Senin, 26 Nov 2018, 10:27:27 WIB      Administrator 137 view  Article Siswa

Anger MANAGEMENT

Oleh: Yeni Kartika, S.sos

“Bagaimana agar kita tidak mudah tersinggung dan marah kepada orang yang mengatakan buruk kepada kita?”

Sadar atau tidak pasti banyak yang menanyakan hal itu kepada kita, bahkan kita sendiripun juga masih bertanya- tanya kepada diri sendiri, sehingga kadang merasa sulit untuk menjawab pertanyaan serupa  yang bahkan kita sendiri  hingga usia tua pun akan terus masih dalam proses terus belajar untuk mendapat jawaban dan menjadi pribadi yang tidak mudah marah. Tulisan ini saya tulis bukan karena saya merupakan pribadi yang memiliki manajemen emosi yang sangat baik sehingga pantas untuk menulis tulisan ini. Namun, kembali lagi saya berusaha mencari jawaban berdasarkan beberapa pertanyaan yang sering saya jumpai dimanapun dan kapanpun kita juga pernah merasakan.

Marah adalah sebuah wujud dari emosi, menjadi suatu hal kewajaran jika kita merasa tersinggung dengan perkataan buruk orang lain kepada kita. Namun, bagaimana cara kita agar kita bisa mengendalikan diri sehingga tidak sampai membawa pengaruh buruk kepada kita sendiri? orang yang membuat kita marah? maupun orang lain yang tidak bersalah? Mari kita cari jawabannya bersama- sama.

Emosi dan pengelolaannya adalah salah satu topik psikologi yang cukup rumit, perlu dipelajari secara mendalam, dan prakteknya akan lebih menantang dari teori-teori yang sudah cukup menyulitkan.

Kata ‘Emosi’ lebih kental dengan hal yang berhubungan dengan marah dan sejenisnya. Padahal cakupan emosi itu amatlah luas, tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku marah. Hanya saja, ungkapan yang sering digunakan oleh masyarakat sehari-hari untuk memaknai emosi sering kali terbatas pada sikap dan perilaku marah, sehingga menerjemahkan Emosi adalah Marah. Namun pada kenyataanya, Emosi juga merupakan sikap dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan perasaan seperti rasa senang, sedih, marah, kaget, kagum, jengkel, khawatir, bahagia, terharu,  dan lain sebagainya.

Emosi berasal dari bahasa Latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan dan keberanian yg bersifat subjektif. 

 

Didalam Al Quran dijelaskan pula dalam beberapa peristiwa yang mengungkapkan emosi. Sekelompok wanita terhormat berdecak kagum menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf (Q.S. Yûsuf [12]: 30-32). Atau, orang-orang yang diidentifikasi sebagai al-bakkâûn, yakni mereka yang mencucurkan air mata sedih karena tidak bisa ikut dalam suatu perang membela Islam (Q.S. al-Tawbah [9]: 92). Sementara yang bersifat eksplosif seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Musa ketika marah kepada kaumnya lalu melampiaskannya dengan membanting prasasti (al-alwâh) yang ada di tangannya (Q.S. al-A‘râf [7]: 150). Pendek kata, emosi yang dialami manusia cakupannya sangatlah luas.

Yang selalu mendapat perhatian yang lebih, adalah emosi marah.  Mari kita kembali lagi kepada pertanyaan bagimana cara menjadi manusia yang tidak mudah marah sehingga bisa dikatakan memiliki management emosi yang bagus.

 Seseorang yang memiliki manajemen emosi yang baik disebut pula dengan orang yang memiliki kemampuan EQ yang baik.

Salah satu komponen penting untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat adalah kemampuan untuk mengarahkan emosi secara baik. Penelitian yang dilakukan oleh Goleman) menunjukkan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sisanya 80% ditentukan oleh serumpun faktor yang disebut kecerdasan emosional atau EQ. Dalam kenyataannya sekarang ini dapat dilihat bahwa orang yang ber-IQ tinggi belum tentu sukses dan belum tentu hidup bahagia.

Orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah seringkali keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat berkonsentrasi. Emosinya yang tidak berkembang, tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan bersikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik.

 Steiner menjelaskan EQ adalah suatu kemampuan yang dapat mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan pribadi.

Kecerdasan Emosional, pada intinya adalah kemampuan kita untuk mengidentifikasi, menngukur, dan menngontrol emosi diri sendiri, orang sekitar, dan kelompok.

Berikut Tips untuk meningkatkan Kecerdasan Emotional  yang akan berdampak kita mudah memanajemen Emosi dan kemarahan pula.

  1. Mengurangi Emosi Negatif

Untuk mengubah perasaan negatifdalam suatu situasi, pertama Anda harus mengubah cara berpikir Anda tentang hal tersebut. Misalnya, cobalah agar tidak mudah berprasangka buruk terhadap tindakan orang. Ingat, mungkin saja ada maksud baik di balik tindakan mereka. 

  1. Berlatih tetap tenang dan berusaha mengatasi stres

Saat berada dalam tekanan, hal paling penting untuk diingat adalah menjaga diri tetap tenang. Misalnya dengan membasuh wajah dengan air dingin atau mulai berolahraga aerobik untuk mengurangi stres. “Jika kalian marah, maka diamlah.” (HR. Ahmad)

Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)

  1. Kemampuan untuk bangkit dari kesulitan

Dalam setiap situasi sulit yang dijumpai, cobalah untuk mengajukan pertanyaan seperti, “Apa pelajaran yang bisa diambil di sini?”, “Bagaimana saya bisa belajar dari pengalaman ini?”, “Apa yang paling penting sekarang?”, “Jika saya berpikir dengan cara yang berbeda, apa ada jawaban yang lebih baik?”. Semakin tinggi kualitas pertanyaan yang Anda ajukan, semakin baik pula jawaban yang akan Anda dapatkan. Ajukan pertanyaan yang membangun berdasarkan proses belajar dan prioritas, dan Anda bisa mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk membantu Anda mengatasi situasi yang sedang dihadapi.

  1. Kemampuan untuk mengungkapkan dalam hubungan pribadi

Anda tak hanya harus bisa berbagi perasaan mendalam dengan orang lain dalam hubungan pribadi Anda, namun Anda juga harus dapat merespon dengan positif saat orang tersebut mengekspresikan emosi yang mendalam kepada Anda. Cobalah untuk mempertahankan hubungan pribadi yang erat, emosi ini dapat tersampaikan melalui perkataan, bahasa tubuh, dan perilaku. Misalnya melalui kontak mata yang positif, senyum, mendengarkan dengan empati, atau sekadar menawarkan makanan. 

 

Yuk, mulai sekarang kita belajar lagi untuk memanjement emosi agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.


Berita Terkait

Anger MANAGEMENT
Senin, 26 Nov 2018, 10:27:27 WIB Baca
MENJADI BERBUDI SESUAI KODRAT INSANI
Kamis, 22 Nov 2018, 07:59:54 WIB Baca
Bangun Solidaritas dan Kepemimpinan melalui LDKS
Kamis, 22 Nov 2018, 07:38:05 WIB Baca

Tuliskan Komentar